Klaster Riset Social and Cultural Innovation (SoCI) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) baru-baru ini menggelar kegiatan diskusi metodologi riset yang menyoroti cara-cara baru bagi para peneliti dalam membedah fenomena sosial. Menghadirkan Dr. Bryan Weisheng Chiu sebagai narasumber, acara ini secara khusus membedah potensi metode analisis fsQCA (fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis).
Dalam pemaparannya, Dr. Bryan Weisheng Chiu menegaskan bahwa fsQCA hadir bukan untuk menggeser metode yang sudah lebih dulu populer seperti SEM (Structural Equation Modeling). Sebaliknya, Dr. Bryan mendorong kedua metode ini untuk dijadikan rekan duet yang saling melengkapi dalam sebuah penelitian.

Untuk mencairkan pembahasan metodologi yang kerap kali kaku, Dr. Bryan mengangkat contoh kasus dunia nyata yang sering terjadi: nasib mantan atlet profesional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak atlet yang bergelimang harta di masa kejayaan, namun mendadak mengalami krisis keuangan dan penurunan kesejahteraan psikologis setelah gantung sepatu.
Di hadapan para peserta diskusi SoCI FIA UI, Dr. Bryan Weisheng Chiu membedah bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi kehidupan pasca-pensiun atlet, mulai dari literasi keuangan, gaya hidup, hingga dukungan keluarga. Di sinilah metode SEM dan fsQCA bisa berkolaborasi dengan apik.
Metode SEM sangat cocok digunakan untuk melihat hubungan langsung secara independen, misalnya untuk mengukur seberapa besar pengaruh literasi keuangan terhadap tingkat stres atlet. Sementara itu, fsQCA mengambil sudut pandang berbeda dengan mencari tahu kombinasi situasi seperti apa yang akhirnya membuat sang atlet bangkrut. Bisa jadi, literasi keuangan yang rendah tidak akan membawa masalah besar jika atlet tersebut belum menikah, namun akan menjadi bencana finansial jika digabungkan dengan gaya hidup mewah dan lingkungan pertemanan yang konsumtif.
Sesi diskusi yang diinisiasi oleh Klaster Riset SoCI FIA UI ini juga membawa pencerahan bagi para peneliti atau mahasiswa yang sering kebingungan saat hasil analisis data SEM mereka menunjukkan angka “tidak signifikan” atau tidak ada pengaruhnya.
Dr. Bryan menekankan bahwa sebuah variabel yang tampak tidak berpengaruh saat berdiri sendiri, bukan berarti tidak penting. Sebuah faktor bisa jadi baru akan menunjukkan dampak aslinya ketika berinteraksi dengan kondisi-kondisi lain di lapangan.
Di titik inilah pendekatan konfigurasional seperti fsQCA menjadi sangat krusial. Pendekatan ini menyadari bahwa masalah sosial di masyarakat sangatlah rumit dan sering kali disebabkan oleh banyak faktor yang saling berinteraksi.
Melalui kegiatan ini, Klaster Riset SoCI FIA UI dan Dr. Bryan Weisheng Chiu kembali memberikan pengingat penting bagi kalangan akademisi: metode riset sejatinya hanyalah alat bantu. Hal yang paling utama adalah bagaimana seorang peneliti mampu menangkap fenomena dengan jeli, merumuskannya secara tajam, dan memilih “alat bedah” metodologi yang paling pas untuk menemukan jawabannya.




