MUSHIMAC UI Gelar Webinar Seri Kedua: Membaca Kuasa dan Identitas dari Benda-Benda Islam

Kelompok Riset Museum, Heritage, & Islamic Material Culture (MUSHIMAC), Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) kembali menyelenggarakan webinar series kedua bertajuk “Islamic Art & Material Culture Studies” pada Rabu, 6 Mei 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting sebagai bagian dari upaya memperdalam kajian seni dan budaya material Islam di Indonesia — bagaimana ia terbentuk, berkembang, dan terus membentuk identitas masyarakat dari masa lalu hingga kini.

Webinar seri kedua ini dibuka oleh Prof. Dr. Irmawati Marwoto, M.Hum., Guru Besar Departemen Arkeologi FIB UI sekaligus Ketua KR MUSHIMAC UI. Dalam pengantarnya, beliau menegaskan bahwa budaya material bukan sekadar benda — ia adalah pintu masuk untuk membaca berbagai fenomena sosial, politik, dan budaya yang sering luput dari perhatian. Webinar ini menghadirkan dua narasumber dan dimoderatori oleh M. Satok Yusuf, S.S., M.Hum., dosen Departemen Arkeologi FIB UI.

Paparan pertama disampaikan oleh Dr. Wahyu Rizky Andhifani, S.S., M.M., Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, dengan judul “Tubuh yang Diatur, Kuasa yang Dilembagakan: Membaca Piyagém Kesultanan Palembang Darussalam.” Menggunakan kerangka pemikiran Michel Foucault tentang relasi tubuh dan kekuasaan, Dr. Wahyu mengulas piyagém — piagam resmi Kesultanan Palembang Darussalam yang ditulis pada lempengan tembaga — sebagai instrumen pengatur kehidupan sosial masyarakat.

Kajiannya berfokus pada empat aturan utama yang tertuang dalam piyagém: kewajiban menanam lada, larangan perdagangan yang dikaitkan dengan praktik Buddhis, pembatasan pernikahan, dan pengaturan terkait kelainan fisik. Melalui aturan-aturan ini, Sultan tidak hanya mengatur urusan politik dan ekonomi, tetapi juga menjangkau ranah yang paling privat dari kehidupan rakyatnya. Menarik pula dicatat bahwa piyagém menggunakan aksara dan bahasa Jawa di wilayah Uluan, sementara aksara Melayu digunakan di ibu kota — sebuah fenomena kebahasaan yang mencerminkan kompleksitas budaya dan kekuasaan di wilayah tersebut. Sisa-sisa fisik kekuasaan itu, seperti Masjid Agung Palembang, hingga kini masih berdiri sebagai cermin pengaruh historis kesultanan.

Paparan kedua dibawakan oleh Attari Putri Denendra, S.Hum., lulusan Arkeologi FIB UI, berjudul “Life-Course dan Biography of Things: Penutup Kepala Perempuan Minangkabau.” Dengan memadukan paradigma Biography of Things dan teori Life Course — yang berbeda dari sekadar siklus daur kehidupan — Attari mengajak peserta melihat penutup kepala bukan hanya sebagai aksesori, melainkan sebagai penanda identitas yang hidup dan berubah seiring perjalanan hidup pemakainya.

Melalui analisis foto-foto historis dan literatur, ia menunjukkan bagaimana berbagai jenis penutup kepala dikenakan pada tahap-tahap kehidupan yang berbeda — dari upacara akikah, khatam Al-Qur’an, hingga lingkungan pendidikan agama. Penutup kepala, dalam tradisi Minangkabau, berfungsi sebagai penanda usia, status perkawinan, dan transisi kehidupan; sebuah bentuk performativitas identitas yang tersimpan dalam objek budaya material.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan antusias. Peserta mengajukan beragam pertanyaan, mulai dari kemungkinan aturan dalam piyagém merupakan kelanjutan dari tradisi pra-Islam, cara kesultanan meregulasi kehidupan hingga ke ranah paling personal, hingga keberagaman penutup kepala di berbagai wilayah Sumatra dan keprihatinan atas makin langkanya tradisi tersebut di tengah masyarakat kini.

Melalui webinar ini, MUSHIMAC UI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang publikasi dan diskusi bagi riset budaya material Islam di Indonesia — dikaji dari berbagai lensa paradigma yang segar dan jarang disentuh dalam diskursus arkeologi Indonesia selama ini.

(MUSHIMAC Departemen Arkeologi FIB UI)

Related Posts