Aktifitas Riset

Program Riset dan Pengabdian

  1. Analisa efikasi artemisin di wilayah endemik dengan riwayat resistensi malaria di propinsi Papua
  2. Tinjauan molekuler PfKelch13 Domain KREP pada Plasmodium falciparum dengan riwayat resistensi artemisin
  3. Respon imunitas seluler terhadap derivat lemak pada subyek kecacingan dan diabetik: kajian imunologik pada transisi wilayah endemik cacing menuju penyakit metabolik
  4. Pengembangan prosedur diagnosis aspergillosis kronis dan alergi
  5. Analisa filogenetik dan pola mutasi gen ERG11 (full gene) pada Candida glabrata yang resisten terhadap flukonazol dan ekinokandin
  6. Profil jamur dan resistensi jamur pada infeksi kornea di Indonesia: pendekatan transkriptomik untuk diagnosis dan terapi
  7. Pengembangan identifikasi jamur Mucorales dan Aspergillus dari jaringan dengan metode molekuler

 

Mitra

  1. Pemda & Dinas Kesehatan kabupaten endemik (wilayah binaan riset + pengabdian).
  2. Fakultas Kedokteran/RS pendidikan/RS rujukan (rekrutmen kasus, data klinik, sampel).
  3. Laboratorium diagnostik & biomolekuler (standardisasi, validasi, uji banding).
  4. Mitra nasional & internasional untuk standard metode, training, dan co-publishing.

 

Bentuk Kolaborasi

MoU, penelitian bersama, co-supervision mahasiswa, uji banding antar lab, pengembangan SOP bersama, workshop rutin, serta joint publication.

Kegiatan

  1. FGD tahunan/semesteran: pematangan proposal, prioritas riset, dan pemilihan wilayah binaan (1–2 kabupaten endemik).
  2. Seminar Series (bulanan/dua bulanan): imunoparasitologi, mikologi klinik, resistensi antimikroba/antijamur, bioinformatika.
  3. Workshop teknis (minimal 2×/tahun):
    • PCR/qPCR/sekuensing & analisis filogenetik/haplotipe
    • Manajemen mutu lab (pre-analitik, kontrol, dokumentasi SOP)
    • Dasar transkriptomik & interpretasi klinis (keratitis).
  4. Field visit & koordinasi wilayah binaan (Papua/daerah endemik): pengambilan sampel, penguatan surveilans, edukasi komunitas.
  5. Penerbitan/aktivasi kanal ilmiah: website kelompok riset, publikasi newsletter, dan penguatan jurnal bidang patobiologi (editorial meeting, call for papers).
  6. Forum diseminasi & policy dialogue: pemangku kebijakan (Dinkes/RS/penentu program) untuk rekomendasi berbasis data.

 

Dampak ke Masyarakat / Kebijakan

Dampak ke Masyarakat:

  1. Deteksi lebih cepat dan akurat pada infeksi jamur (terutama aspergilosis, keratitis jamur, mucormycosis) → terapi lebih tepat, penurunan komplikasi, dan efisiensi biaya.
  2. Penguatan pengendalian malaria berbasis bukti lokal (efikasi artemisin + sinyal resistensi) → pencegahan kegagalan terapi dan penguatan tatalaksana.
  3. Intervensi berbasis komunitas di wilayah endemik parasit: edukasi higiene/sanitasi, deteksi dini, dan peningkatan kesadaran risiko penularan asimtomatik.
  4. Peningkatan kapasitas SDM lokal (tenaga kesehatan/lab) melalui pelatihan dan SOP terstandardisasi.

 

Dampak ke Kebijakan:

  1. Policy brief dan rekomendasi program terkait:
    • pemantauan efikasi artemisin dan strategi mitigasi resistensi di Papua,
    • algoritme rujukan diagnosis aspergilosis (kronis & alergi) dan jamur invasif,
    • pedoman lokal resistensi antijamur (mis. C. glabrata) untuk stewardship.
  2. Standar prosedur layanan yang dapat diadopsi lab/RS: SOP diagnostik aspergilosis sebagai luaran hilirisasi utama (2029–2030).
  3. Model kolaborasi “wilayah binaan” (Pemda–Dinkes–RS–kampus) yang replikatif untuk provinsi lain.